About

Tuesday, March 26, 2013

LEGENDA BATU BALAI




Pada zaman dahulu, di tengah-tengah hutan di Mentok hiduplah seorang perempuan tua. Ia mempunyai seorang anak yang bernama Dempu Awang. Kehidupan mereka sangat sederhana. Mereka hidup dari hasil ladang yang ditanami ubi, keladi, dan lain-lain.
Karena hasil ladang yang mereka peroleh sedikit sekali, Dempu Awang bermaksud merantau mencari pekerjaan yang lebih baik. Ia pun mengemukakan maksud itu kepada ibunya. Ternyata sang ibu mengizinkan Dempu Awang merantau.
Beberapa hari kemudian, Dempu Awang pamit pada ibunya untuk merantau. Ia menumpang perahu layar. Karena tidak mempunyai uang untuk membayar ongkos naik perahu, Dempu Awang bersedia menjadi anak buah perahu itu.
Sepeninggal Dempu Awang, ibunya tinggal seorang diri di tengah hutan. Ia selalu berdoa agar anaknya selamat dan mendapat pekerjaan. Tak terasa sepuluh tahun telah lewat. Berkat doa ibunya, sekarang Dempu Awang telah menjadi seorang yang kaya raya. Namun, ia tidak pernah memberikan kabar kepada ibunya.
Sementara itu, di rantau, Dempu Awang telah berkeluarga. ia mempunya istri yang cantik dan anak orang kaya.
Suatu hari, Dempu Awang bermaksud pulang ke kampung halamannya untuk menemui ibunya. Berangkatlah ia bersama istrinya ke Mentok dengan naik perahu layar miliknya sendiri. Tak berapa lama, sampailah perahu layar Dempu Awang di perairan kampung halamannya.
Ketika melihat ada perahu layar berlabuh, nelayan-nelayan yang sedang berada di pantai perairan itu mengayuhkan sampan-sampan mereka ke perahu itu. Ketika sudah dekat, mereka melihat seorang anak muda bersama seorang perempuan berdiri di pinggir geladak. Anak muda itu memberi isyarat agar para nelayan itu ke perahunya.
Beberapa nelayan naik ke perahu. Anak muda itu segera menanyakan keadaan ibunya. Para nelayan itu mengatakan bahwa wanita tua itu masih hidup dan berada seorang diri di tengah hutan.
Mendengar itu, Dempu Awang minta tolong kepada nelayan-nelayan itu agar membawa ibunya ke perahu. Dempu Awang ingin memastikan apakah wanita itu ibunya atau orang lain yang mengaku ibunya.
Wanita tua itu dijemput oleh para nelayan dan dibawa ke perahu. Ketika Dempu Awang melihat wanita tua renta itu menaiki tangga perahu, cepat-cepat disuruhnya pelayan untuk mengusir wanita tua itu. Dempu Awang malu mengakui ibunya yang sudah tua renta dan berpakaian compang-camping di hadpan istrinya.
"Jangan suruh dia naik ke perahu! Dia bukan ibu saya. Dia petani yang tidak ku kenal," kata Dempu Awang.
"Dia adalah ibunda Tuan," kata para nelayan. Sementara itu, di pinggir perahu wanita tua itu berkata, "Benar, saya adalah ibumu yang kau tinggalkan di hutan beberapa puluh tahun yang lalu. tanda goresan di keningmu bekas luka terjatuh itu adalah cirinya."
Mendengar perkataan wanita itu, Dempu Awang menjadi marah dan tidak memberi kesempatan kepada perempuan tua itu untuk naik ke tangga perahunya. Melihat kejadian itu, istrinya mengatakan "Terimalah ibumu. Jangan menjadi anak durhaka dan tak usah malu."
"Jangan suruh dia naik ke perahu! Dia bukan ibu saya. Dia...," kata Dempu Awang.
Tanpa mempedulikan kata-kata istrinya, Dempu Awang mendorong perempuan tua itu hingga terjatuh dari tangga perahu ke dalam sampan yang membawanya tadi. Para nelayan sangat sedih melihat keadaan wanita itu, lalu mengayunkan sampannya pulang.
Di dalam sampan, wanita tua itu berlutut sambil mengangkat kedua belah tangannya ke atas. Ia mohon kepada Yang Maha Kuasa agar memberikan balasan yang setimpal kepada Dempu Awang. Dempu Awang telah menjadi anak durhaka, tidak mengakui ibu kandungnya.
Sewaktu Dempu Awang akan berlayar meninggalkan perairan kampung halamannya, tiba-tiba turun angin ribut serta hujan lebat ditambah guntur dan petir. Saat itu juga, perahu Dempu Awang pecah terbelah dua, lalu karam. Setelah angin ribut dan hujan reda, ternyata perahu bersama Dempu Awang telah menjadi batu, sedangkan istrinya menjadi kera putih.
Menurut kepercayaan orang-orang di Mentok, batu itu sampai sekrang masih ada dan terletak 3,5km di sebelah utara Mentok. Batu-batu itu berukuran lebih kurang 8 x 6m dan tingginya 5m.
Pada zaman dahulu, di samping batu ini terdapat kantor pemerintahan serta tempat orang-orang kampung di sekitar itu bermusyawarah. Tempat yang demikian ini disebut "balai" sehingga batu itu dinamakan "batu balai". Sampai sekarang batu balai masih terpelihara dengan baik di mentok.

0 komentar:

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes